Tadabur Sastra ke Pulau Penyengat
×

Adsense2

Adsense3

Tadabur Sastra ke Pulau Penyengat

Minggu, 09 Februari 2020 | Februari 09, 2020 WIB Last Updated 2021-05-01T14:57:49Z

Seroja bersanding bunga cempaka
Bersemai taman diisi melati
Selami Sastra hingga ke Akarnya
Ke Penyengat langkahkan Kaki

KEPULAUAN RIAU, MJ. Perjalanan sastra saya kali ini bermula dari sebuah pulau kecil di tengah genangan laut Kepulauan Riau. Namanya Pulau Penyengat. Di pulau ini, berlabuh riwayat asal kesusastraan Melayu. Ini lah pulau tempat Raja Ali Haji melabuhkan ‘Gurindam 12’ nya yang mahsyur itu. Saya termasuk yang beruntung bisa mengelilingi pulau ini.

Pulau Penyengat juga dikenal dengan nama ‘Penyengat Indra Sakti.’ Pulau ini hanya memiliki luas 4 km2. Jumlah penduduknya sekitar 3 ribu jiwa.

Menurut riwayatnya, pulau ini adalah hadiah perkawinan Sutan Mahmud kepada calon istrinya. Nama pulau diambil dari nama sebuah serangga. Konon dulu, ketika para pelaut dan nelayan pertama yang datang ke sana, diserang penyengat (serangga). Sejak itu lah melekat nama Penyengat untuk pulau ini bagi para pelayar.

Pulau ini pernah menjadi pusat pertahanan Riau dari jajahan Belanda. Selain itu, sekitar 1824, Penyengat juga pernah menjadi pusat pemerintahan melayu yang meliputi Riau, Kepulauan Riau, Johor dan Singapura.

Sisi lain dari Pulau Penyengat, karakternya yang khas sebagai penghasil karya sastra. Dulu, pulau ini sering disebut ‘Taman Penulis Melayu’. Masyarakat pulau ini senang menulis, dari segala usia dan semua strata masyarakat. Raja menulis, patih menulis, pedagang menulis, nelayan menulis, hingga anak-anak dan orang biasa pun menulis. Mereka tidak sungkan untuk menuliskan profesinya sebagai pengenalan diri dalam setiap tulisan yang dibuat.

Berangkat dari pelabuhan di Tanjung Pinang, kami menyeberang ke Pulau Penyengat dengan menggunakan kapal motor kecil yang biasa tersedia di dermaga. Pemilik kapal-kapal tersebut adalah masyarakat sekitar yang setiap hari berprofesi melayani angkutan dermaga. Perjalanan dari dermaga Tanjung Pinang menuju Pulau Penyengat memakan waktu lebih kurang 20 menit.

Kebetulan, saya datang ke sana bersama rombongan sastrawan nusantara. Di pelabuhan Pulau Penyengat, kami disambut kesenian Kompang, sejenis perkusi menggunakan rebana dan diiringi salawat sebagai bentuk penyambutan selamat datang kepada para pendatang. Salah seorang pimpinan rombongan dikenakan Tanjak, langsung oleh petinggi adat di Penyengat. Tanjak adalah sejenis tutup kepala khas Bumi Melayu.

Bukan itu saja, kami juga disambut oleh hidangan tradisional Penyengat berupa makanan dan minuman. Kami disuguhi Dohod yakni sejenis minuman yang terbuat dari campuran madu, kismis dan rempah lainnya. Konon kabarnya, minuman ini dulunya adalah minuman para raja di Penyengat. Selain Dohod, kami juga berkesempatan menyicipi Kirei, sejenis kue tradisional Penyengat yang terbuat dari tepung terigu dicampur kari ayam.

Tempat pertama yang kami kunjungi di Penyengat adalah Masjid Sultan Riau. Masjid ini bertahun 1832 M. Bangunannnya terbuat dari campuran tanah liat, pasir dan putih telur. Dulu, masjid ini terhubung langsung dengan berbagai aktivitas kerajaan di Timur Tengah seperti Arab Saudi, India dan Mesir. Banyak produk kesusasteraan Islam didatangkan dari wilayah-wilayah itu. Salah satunya adalah keberadaan kitab-kitab Islam klasik seperti Fiqih, Kajian Sejarah Islam hingga Pengobatan. Semua kitab-kitab tersebut disimpan di sebuah lemari di depan pintu masjid.

Menurut cerita Dt. Abdul Rahman (pengelola masjid), semua buku-buku tersebut dibeli seharga Rp10 ribu di masa itu. Dan, yang paling menarik perhatian saya adalah keberadaan kitab asli milik Ibnu Sina yang berisikan panduan pengobatan untuk penyakit jiwa. Kitab tersebut bertuliskan tulisan tangan beliau dan masih awet sampai hari ini. Kitab ini dibeli oleh Raja Penyengat kala itu langsung dari Arab Saudi.

Para pengunjung yang datang, dapat mengabadikan kitab tersebut melalui foto. Di dalam masjid, juga terdapat sebuah kitab al quran yang ditulis tangan menggunakan tinta cumi-cumi. Kitab tersebut disimpan di dalam lemari kaca.

Dari masjid Sultan Riau, kami menuju sebuah museum milik Yayasan Kebudayaan Indra Sakti. Di sana tersimpan naskah-naskah kuno beraksarakan kitab gundul yang ditulis pada abad ke 19. Tidak kurang dari 500 manuskrip klasik tersimpan di sini. Beberapa di antaranya ditulis langsung oleh Raja Ali Haji dan cucu-cucunya.

Salah satu yang menarik perhatian di museum ini adalah keberadaan manuskrip kitab untuk perempuan dan laki-laki yang ditulis oleh cucu Raja Ali Haji. Tidak jauh dari sana, juga terdapat kompleks percetakan ‘Rasidah Club.’ Ini dulunya adalah pusat perkumpulan cerdik cendikiawan dan bermunculannya karya-karya penulis Pulau Penyengat. Kami juga berkesempatan mendengarkan langsung isi pidato Raja Abdullah yang dibacakan pemandu jalan di depan kompleks itu.

Tak afdal rasanya, jika tak mampir ke Balai Adat Raja Ali Haji di Pulau ini. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Rasidah Club. Para pengunjung bisa ke sana dengan berjalan kaki menyusuri tepi pantai ataupun menggunakan jasa becak motor. Balai Adat ini langsung menghadap ke laut. Di Balai Adat ini tersimpan sejarah kesusasteraan dan peradaban Melayu yang mahsyur. Di sini, Raja Ali Haji itu bertahta. Di sini pula ia menciptakan Gurindam 12 yang terkenal itu. Di Balai Adat ini, juga terdapat ruang baca.

Saya pun berkesempatan menikmati hidangan khas raja di Balai Adat ini. Layaknya makan di tempat istimewa, di sini juga memiliki tata cara dalam makan. Setiap orang diminta makan berkelompok empat orang. Isi hidangan berupa nasi briani yang terbuat dari kebab arab, susu, kaldu ayam dan minyak sapi.

Berkunjung ke Pulau Penyengat serasa berkunjung ke kampung sastra. Tak melayu bila tak punya sastra. (*/NOVIK EL KOTO)




loading...

Adsense Kiri Kanan



Adsense8

Iklan Revcontent

×
Berita Terbaru Update