PendidikanSumatera Barat

Menulis Ternyata Masih Momok bagi Sebagian Guru

75
×

Menulis Ternyata Masih Momok bagi Sebagian Guru

Sebarkan artikel ini
pelatihan literasi limapuluh kota
H. Irwandi Nashir, Dosen IAIN Bukittinggi, saat menyampaikan materi pelatihan penulisan artikel untuk para guru yang tergabung dalam Komunitas Penggerak Literasi Kabupaten Lima Puluh Kota, Minggu (28/2/2001). (ist)

MJNews.id – Bagi sebagian besar guru, menulis ternyata masih menjadi momok. Banyak yang patah arang, sehingga sulit naik pangkat. Hal itu tak boleh dibiarkan. Harus ada solusi tepat, di antaranya melalui pembiasaan. 

ADVERTISEMENT

banner pemkab muba

Demikian dikatakan Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi H. Irwandi, Minggu (28/2/2021), saat menjadi narasumber Pelatihan Penulisan Artikel untuk Jurnal Ilmiah. Kegiatan itu dilaksanakan Komunitas Penggerak Literasi Kemenag Kabupaten Limapuluh Kota. 

“Menulis ternyata masih menjadi momok bagi sebahagian besar guru. Kondisi ini membuat guru patah arang untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat, karena tak mampu menulis artikel ilmiah atau membuat penelitian. Padahal persoalan ini dapat diatasi dengan memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan untuk guru dalam menghasilkan karya tulis,” katanya. 

Apalagi sebagai seorang sarjana, tegas Irwandi, guru telah memiliki modal akademis untuk menghasilkan karya ilmiah. Hanya saja, tuturnya, karena sibuk mengajar dan aktivitas lainnya yang tak ada kaitannya dengan aktivitas menulis, membuat para guru tidak mengasah modal akademis itu. 

Dikatakan, untuk menulis perlu pembiasaan dan manajemen diri, sebab guru telah punya modal intelektual dan yang tak kalah pentingnya pengalaman mengajar. Bahkan, tegasnya, dari pengalaman mengajar itu, guru bisa menemukan masalah dan dicarikan solusinya. Kegiatan menemukan masalah dan mencari solusi sesungguhnya adalah kegiatan penelitian itu sendiri. 

“Guru mesti menggeser paradigma dari guru sebagai pengajar ke guru sebagai peneliti. Beda guru sebagai pengajar dan peneliti itu terletak pada manajemen aktivitas mengajar. Guru sebagai pengajar ketika membuat persiapan mengajar hanya berpikir untuk sebuah tugas mengajar saja,” sebutnya. 

Bahkan, tekan Irwandi, saat menemukan masalah di dalam kegiatan mengajar, biasanya hanya bercerita saja kepada teman sejawat, atau bahkan mencari solusi seadanya saja. Sementara guru sebagai peneliti sejak awal perencanaan mengajar telah punya sebuah kesadaran bahwa ia ke kelas bukan sekedar mengajar, tetapi sekaligus meneliti. 

Menurutnya, metode dan siklus mengajar yang dituliskan di rencana pembelajaran itu benar-benar diimplementasikan. Guru peneliti juga mengobservasi kegiatan siswa di dalam kelas, mengevaluasi respon siswa, dan melakukan refleksi setelah menerapkan metode mengajar yang direncanakan sebelumnya. 

“Jadi sambil menyelam, minum air. Tugas mengajar tetap dilaksanakan dan pada saat yang sama aktivitas meneliti juga bisa dilakukan. Menumbuhkan kesadaran sebagai guru peneliti itu yang penting. Kalau kesadaran seperti ini kuat, maka membuat penelitian tindakan kelas bukan sesuatu yang berat bagi guru,” jelasnya.

(mus)

Kami Hadir di Google News

ADVERTISEMENT