ADVERTISEMENT
BeritaBlitarJawa Timur

Reses Anggota DPRD Jatim di Desa Bendosewu Ricuh, Ratusan Peserta Kecewa

98
×

Reses Anggota DPRD Jatim di Desa Bendosewu Ricuh, Ratusan Peserta Kecewa

Sebarkan artikel ini
Reses Anggota DPRD Jatim, Guntur Wahono di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar
Reses Anggota DPRD Jatim, Guntur Wahono di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. (f/ist)

Mjnews.id – Anggota DPRD Jatim Fraksi PDI-P Dapil 7, Guntur Wahono, mengadakan reses di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Namun, acara yang menampung aspirasi rakyat berakhir ricuh karena absennya uang transportasi bagi peserta.

Sebagaimana dilansir dari laman media online memorandum.disway.id, Sejak pukul 19.30, sekitar 300 undangan hadir untuk menyuarakan aspirasi mereka. Namun, ketika bingkisan yang disiapkan tidak termasuk uang transportasi, kekecewaan pun meluap.

ADVERTISEMENT
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Guntur Wahono pun memilih untuk meninggalkan acara dengan alasan masih ada kegiatan lainnya, meninggalkan suasana yang gaduh dan beberapa undangan terluka dalam dorongan.

Baca Juga  Serap Aspirasi, Wakil Ketua III DPRD Kota Malang Fokus Pengembangan Keterampilan Warga

Salah satu peserta, Dyantok, menegaskan bahwa adanya kericuhan dipicu oleh ketidaktersediaan uang transportasi. Dia menyesalkan bahwa acara yang seharusnya berjalan lancar harus berakhir dengan kekecewaan dan kekacauan.

Meskipun anggota DPRD menerima alokasi dana reses, yang seharusnya mencakup biaya sewa gedung, makanan, minuman, dan transportasi peserta, Guntur Wahono menyatakan bahwa dia tidak mengetahui kejadian kericuhan tersebut dan bahwa uang transportasi tidak disediakan, digantikan dengan program untuk masyarakat.

IMG 20240131 WA0161
Ricuh, Peserta Reses di Desa Bendosewu

Supangat, salah satu panitia, menyayangkan terjadinya kericuhan. “Awalnya lancar-lancar saja, dipicu teriakan beberapa peserta minta uang transport. Kami sayangkan, acara akhirnya bubar,” tuturnya.

Baca Juga  Bupati dan Wabup Pesibar Hadiri Penutupan Pekan Raya Lampung

Sementara itu, Dyantok, salah satu peserta, menjelaskan bahwa acara reses seharusnya menyediakan uang transportasi. “Gegernya dipicu uang transport. Begitu berdesakan dan saling dorong, akhirnya bubar saling mengamankan diri,” jelasnya.

Kondisi yang terjadi di Desa Bendosewu menunjukkan pentingnya koordinasi yang baik antara wakil rakyat dan masyarakat dalam penyelenggaraan acara reses, serta kebutuhan untuk memastikan bahwa setiap aspek keperluan peserta telah dipenuhi agar acara berjalan dengan lancar dan efektif.

(Bud)